Dalammemasuki tahun 2002 yang penuh tantangan dan harapan, kiranya masih relevan untuk di ingat dan direnungkan kembali pesan dan nasihat yang pernah diberikan oleh tuan guru K. H. Zaini Ghani (guru H Ijai) guru Sekumpul Martapura kepada Bapak Gubernur Kalsel Drs HM Syachriel Darham hari Kamis 10 Pebruari 2000 bertempat di kediaman beliau di
BERITABANTUL - Karomah kewalian Abah Guru Sekumpul dirasakan oleh semua elemen masyarakat baik yang sudah kenal beliau maupun belum.. Ada sebuah kisah seorang santri ditemui Abah Guru Sekumpul padahal sudah wafat, sebagaimana dikutip akun Facebook Faqih Merdeka.. Ia merupakan muhibbib Abah Guru Sekumpul, pernah
AmalanDoa, antara Guru dan Setan. selanjutnya sesegera mungkin awrad tersebut dimintakan ijazah kepada ustaz atau abuya atau tuan guru yang berada di sekitar lingkup Anda tinggal. Untuk masalah tarekat, wiridnya sebenarnya bisa saja dibaca pada malam hari, habis salat Magrib ke atas sampai salat Subuh.
PERINGATANHAUL AKBAR KE 11 TUAN GURU SEKUMPUL | Al al-‘Alimul ‘Allamah Al ‘Arif billah K.H. Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani Peringatan Haul Akbar ke-11 Abah Guru Sekumpul Martapura. Salam Mahabbah.. Meneruskan Pemberitahuan Haul ke-11 Abah Guru Sekumpul yg diumumkan Imam Mushalla Ar-Raudhah Malam Senin ini. Ijasah
Gurutasawuf yang banyak diikuti oleh Bubuhan Kumai berasal dari Martapura, yang terkenal dengan sebutan Guru Sekumpul.4 Berkaitan dengan sumber terakhir ini, di Kumai ada beberapa guru tasawuf5 yang dijadikan rujukan oleh masyarakat. Para guru tasawuf ini mengajarkan agar selalu mendekatkan diri kepada Allah, melakukan kegiatan-kegiatan yang
mRGH. Tidak lama lagi seluruh umat muslim akan memasuki bulan suci Ramadan 1442 hijriah. Nah, semasa hidup, tokoh ulama kharismatik yang sangat berpengaruh di Kalimantan Selatan, Syekh Maulana Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau biasa disebut Abah Guru Sekumpul berpesan, bacalah beberapa amalan saat memasuki bulan suci Ramadan. Abah Guru Sekumpul, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani maupun Tuan Guru Bangil, Syekh Syarwani Abdan pernah berkata,”Siapa saja yang membaca Surah Al-Fath Innaa Fatahnaa dari ayat pertama sampai habis sebanyak 3x di awal malam bulan Ramadan 1 Ramadhan, insya Allah dipeliharakan Allah ta’ala dari bala musibah selama 1 Tahun di tahun itu dan Allah meluaskan rezkinya serta Allah berikan ketenangan dalam hidup”. Demikian dikutip dari Abah Guru Zaini Sekumpul juga berkata, “Lamun nyawa nang’ae bulan puasa itu supaya kada marasa kahausan, imbah sahur ambil banyu putih sacangkir lalu baca surah al-Kautsar 7x, tiupkan ka banyu putih tadi lalu minum banyunya bagiakan lawan kulawarga atau lawan anak bini, fadhilatnya insya Allah kada marasa haus mulai sahur sampai handak babuka, karna minum banyu tadi sama lawan minum talaga Kautsar kada marasa haus. Unda dipadahi Guru Bangil nang kaitu jua guru bangil manggawi.” “Kalau kamu ingin pada bulan puasa tidak merasa kehausan, setelah sahur ambil secangkir air putih lalu baca surah al-Kautsar 7x, kemudian tiupkan ke air tersebut. Minum air tersebut dan bagikan kepada keluarga anak, istri. Fadhilahnya insya Allah tidak merasa haus mulai sahur sampai hendak berbuka karena minum air tersebut sama dengan minum telaga Kautsar. Saya diajari Guru Bangil, dan Beliau pun mengamalkannya”. Dalam kitab Imdad ditulis bahwa salah satu doa Abah Guru Sekumpul sehabis sholat witir adalah membaca laa ilaaha illallaahul haliimul kariim, subhaana rabbis samaawaatis sab’i wa rabbil arsyil azhiim. Fadhilahnya, diriwayatkan oleh Ibnu Abbas sebuah hadits, “Barangsiapa mengucapkan “laa ilaaha illallaahul haliimul kariim, subhaana rabbis samaawaatis sab’i wa rabbil arsyil azhiim wal hamdu lillahi robbil alamin” sebanyak tiga kali, ia seperti orang yang mendapatkan Lailatul Qadar. Maksudnya, barangsiapa mengucapkan kalimat tersebut pada malam yang diduganya Lailatul Qadar padahal malam itu bukan Lailatul Qadar dan ia melakukan amal solih pada malam itu maka nilai amalnya sama seperti bila dilakukan pada Lailatul Qadar. لا إله إﻻ الله الحليم الكريم سبحان رب السموات السبع و رب العرش العظيم والحمد لله رب العالمين Laa ilaaha illallaahul haliimul kariim, subhaana rabbis samaawaatis sab’i wa rabbil arsyil azhiim wal hamdu lillahi robbil alamin. Artinya Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia, Maha Suci Tuhan tujuh lapis langit dan Tuhan Arsy yang agung. Mudah-mudahan kita dapat mengamalkannya, berkat Rasulullah, berkat Auliya Allah, Guru-guru kita dan orang-orang sholeh mudah-mudahan dosa-dosa kita diampuni Allah. Dikabulkan segala hajat, dipanjangkan umur, dimurahkan rezeki yang barokah, mati husnul khotimah masuk surga bighoiri hisab. ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﷺ
Dilihat 45,537 Artikel Eksklusif Oleh H Derajat amalannya diijazahkan oleh Abah Guru Sekumpul yang diterima dari Habib Abdullah Al Aidrus putra Habib Sakran yang terkenal karena kewaliannya. Inilah amalannya Ya Quddus Ya Quddus A’thinil fulus, fa man aadanii fahuwa manfus berkat Habib Abdullah Alaydrus dibaca 11 kali “Wahai Yang Maha Suci, Wahai Yang Maha Suci berilah aku uang, siapapun yang memusuhiku matikanlah, berkah dari Habib Abdullah Alaydrus” Inilah sebuah amalan yang menjadi wirid harian para Wali Allah yang sangat terkenal karena kesholehannya dan akhlaknya yang mulia. Semoga dengan kita menyebarkan ajaran Wali-wali Allah insya Allah kita akan menjadi umat yang dekat dengan Allah dan RasulNya. Aamiin. Mari peduli Umat Mari Peduli Sesama dengan perbuatan amal sholeh.
– Tuan Guru Sekumpul adalah ulama kharismatik yang memiliki nama asli Tuan Guru Haji Muhammad Zaini Abdul Gani. Beliau adalah pemimpin tarekat Samaniyah, mubaligh dan penulis kitab. Ia dilahirkan pada 1942 di desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Ayahnya bernama Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf dan ibunya bernama Hj. Masliah binti H. Mulya. Ia merupakan keturunan kedelapan dari ulama besar Banjar, Syeikh Muhammad Arsyad Guru lahir dengan nama Ahmad Qusyairi. Setelah lahir ia dan keluarganya pindah ke Kmapung Keraton, Martapura. Qusyairi kecil selalu didampingi oleh ayahnya dan neneknya yang bernama Salbiyah untuk belajar Al-Qur’an dan ajaran-ajaran luhur keislaman. Sejak kecil beliau selalu diajarkan untuk mencintai ulama. Di usia 7 tahun beliau sudah menghafal Al-Qur’an, dan di usia 9 tahun, beliau sudah hafal Tafsir al-Jalalain, tafsir Al-Qur’an yang dikarang oleh dua ulama besar asal Mesir, Jalaluddin al-mahalli dan kecil memulai pendidikan formalnya pada tahun 1949 di Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura yang kemudian melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah. Di masa sekolah inilah namanya berubah menjadi Muhammad Zaini. Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah, ia terus melanjutkan pemburuan ilmunya ke banyak alim ulama rujukan umat di zamannya ke berbagai muda kemudian berangkat ke Makkah untuk belajar agama kepada beberapa ulama terkenal di sana. Adapun para ulama yang menjadi gurunya antara lain Kyai Falak Bogor, Syeikh Yasin bin Isa al-Fadani ulama asal Padang yang berdomisili di Makkah, Syeikh Hasan al-Masya tokoh ulama yang juga tinggal di Makkah, Syeikh Ismail al-Yamani Tokoh ulama yang berasal dari Yaman dan tinggal di Makkah, Syeikh Abdul Qadir al-Baar. Syeikh Ali Junaidi bin Qadhi Muhammad Amin bin Mufti Jamaludin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syeikh Tuan Guru Muhammad Syarwani Abda, dan al-Allamah Syeikh Muhammad Amin belajar di Makkah pada 1970, beliau membuka sendiri pengajian di rumahnya, di Kampung Keraton. Awalnya yang diajarkan adalah nahwu sharaf, namun seiring berjalannya waktu karena yang hadir semakin beragam, maka beliau mulai menggantinya dengan Simtudduror dan Maulid al-Barzanji lalu membaca beraneka macam kitab. Dan jumlah muridnyna semakin bertambah dari hari ke hari. Di tahun 1990-an, beliau memindahkan pengajiannya ke Desa Sekumpul, disana beliau merintis pembangunan musholla Ar-Raudhah. Pengajian terus dilakukan sejak 1990-an hingga wafatnya beliau di tahun 2005. Dari sinilah panggilan Tuan Guru Sekumpul didapatnya. Tuan Guru Sekumpul merupakan perintis dari pembacaan Maulid Simtud-Durar atau yang biasa dikenal dengan sebutan Maulid Habsyi di Kalimantan. Ia juga termasuk seorang Tuan Guru yang memperhatikan kesejahteraan jamaahnya. Pada waktu-waktu tertentu, ia mengundang dokter-dokter spesialis untuk memberikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai, seperti spesialis jantung, paru-paru, THT, mata, ginjal dan penyakit meluar maupun penyakit dalam. Selain kesehatan, ia juga sangat peduli terhadap kebersihan. Ia juga tidak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk memberi konsumsi bagi para Guru Sekumpul adalah satu-satunya ulama di Indonesia yang diperbolehkan untuk membaiat Tarekat Sammaniyah. Oleh karena itu, banyak jamahnya yang datang kepadanya, bahkan dari luar Kalimantan, seperti Jawa dan luar negeri untuk mengambil baiat tersebut. Murid-murid yang mengikuti pengajiannya tidak kurang dari puluhan ribu orang yang datang dari berbagai penjuru daerah Kalimantan Selatan dan terlihat dari majelis pengajiannya yang dikunjungi oleh puluhan ribu kaum muslimin pada setiap hari kamis sore sampai malam jum’at dan hari ahad sore sampai malam senin. Adapun pada hari sabtu pagi, khusus disediakan untuk ibu-ibu kaum muslimat. Tuan Guru Sekumpul tidak hanya terpandang sebagai seorang ulama yang pandai dalam berdakwah secara lisan, tetapi juga banyak menghasilkan karya yang semuanya berbahasa Arab. Beberapa karyanya adalah Risalah Mubarakah, Manakib Asy-syeikh Muhammad Samman al-Madani Keajaiban di luar nalar Tuan Guru Tuan Guru Sekumpul juga dikenal karena karamahnya. Misalnya, beliau dikenal sudah memiliki kemmapuan kasyah hissi sejak usia 10 tahun, yaitu mendengar apa yang ada di dalam atau yang di tutupi bahwa masyarakat pernah mengadu kepada beliau karena kemarau yang melanda dan hujan yang tidak kunjung turun. Lalu beliau menggoyangkan pohon pisang beberapa kali dan kemudian turunlah hujan. Kisah lain menceritakan waktu beliau masih memberikan pengajian di Kampung Keraton, ia sedang bercerita tentang kesalihan ulama-ulama dan sampailah pada cerita buah rambutan. Ia lalu memasukkan tangannya ke dalam sakunya dan keluarlah buah rambutan, padahal saat itu belum memasuki musim buah beliau menegaskan bahwa karamah terbaik adalah istiqomah di jalan Allah swt. Karena itu, beliau menasihati agar jangan tertipu dengan keanehan-keanehan dan berfikir untuk mengamalkan wirid atau ibadah tertentu agar memiliki karmah tersebut. Karena hakikatnya, karamah itu anugrah, bukan Tuan GuruAda tiga belas wasiat yang ditinggalkan oleh Tuan Guru Sekumpul untuk perbaikan umat di masa depan. Ketiga belas wasiat itu adalah Selalu berpegang teguh pada ajaran Allah serta menjunjung tinggi kedua orang tua serta para alim ulamaBerbaik sangka terhadap sesama muslimMurah hatiMurah hartaManis mukaJangan menyakiti hati orang lainMudah memaafkan kesalahan orang lainJangan saling bermusuhanJangan tamakSelalu yakin keselamatan itu kepada kebenaranJangan merasa lebih baik dari orang lainJangan melayani orang yang dengki kepada kita, serahkan semua kepada AllahTuan Guru Muhammad Zaini Abdul Gani meninggal pada 10 Agustus 2005 di usia 63 tahun. Ia didiagnosa mengalami gagal ginjal dan sempat dirawat ke rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura, selama sepuluh hari.
Perjalanan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Sekumpul, selama menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura, Kalimantan Selatan, sungguh sangat mengharukan. Guru Sekumpul dulu hanya berasal dari keluarga yang miskin, bahkan saat masih kecil, dia hanya memiliki satu sarung yang dapat dipakai untuk sekolah. MARTAPURA, – Kisah perjalanan semasa kecil sekolah di Ponpes Darussalam ini pernah diceritakan langsung oleh Guru Sekumpul dalam pengajian rutin di Komplek Ar Raudhah Sekumpul. Kemudian kisah tersebut beredar di kalangan masyarakat Kota Martapura khususnya hingga sekarang. Guru Sekumpul dalam pengajian rutin mengisahkan, semasa kecil, sebelum memutuskan masuk sekolah ke Ponpes Darussalam, dia juga sempat diajari oleh ayah kandungnya, Syekh Abdul Ghani untuk bekerja. Syekh Muhammad Zaini Ingin Sekolah Namun tidak berlangsung lama, Tuan Guru Semman Mulia yang tidak lain pamannya sendiri, datang dari Makkah, kemudian menemui ibu kandung Syekh Muhammad Zaini yang bernama Hj Masliah. Lalu menanyakan pekerjaan yang dilakukan Syekh Abdul Ghani kecil. Kemudian Hj Masliah menjawab, “separuh waktu belajar bekerja, dan separuh waktu lagi sekolah.” BACA JUGA ; 3 Amalan Ramadhan Guru Sekumpul VIDEO Kemudian Tuan Guru Semman Mulia memberikan perumpamaan, bahwa botol yang berisi garam itu pada bagian atas kecil, kemudian bagian tengah dan bawah besar. Jadi, garam tidak bisa dimasukkan ke dalam botol dengan jumlah yang banyak, melainkan sedikit demi sedikit. “Kananak ini Syekh Muhammad Zaini kecil, kada sanggup dunia dan akherat dikumpulkan seharian semalaman, lucung…bahasa wayahini lucung,” ungkap Guru Sekumpul menirukan ucapan Tuan Guru Semman Mulia kala itu. Tuan Guru Semman Mulia memberikan pertimbangan agar menanyakan keinginan Syekh Muhammad Zaini kecil, agar memilih salah satu keinginan, apakah berdagang atau hanya sekolah. Kala itu, Tuan Guru Semman Mulia menyarankan Syekh Abdul Ghani atau istrinya langsung menanyakan kepada Syekh Muhammad Zaini kecil. Namun, baik Syekh Abdul Ghani maupun istrinya tidak ingin menanyakan secara langsung, karena khawatir Syekh Muhammad Zaini tidak dapat memenuhi keinginan kedua orang tuanya, sehingga durhaka. BACA JUGA ; Guru Sekumpul dan Guru Zuhdi; di Antara Kemuliaan Shalawat Atas Rasulullah Namun akhirnya, pertanyaan itu disampaikan nenek dari Syekh Muhammad Zaini kecil yang bernama Salbiah. “Arwah nini nenek betakun, ikam cu…handak sekolah kah atau begawi?” kenang Guru Sekumpul. Lalu Syekh Muhammad Zaini menjawab, hanya ingin sekolah. Kemudian Syekh Abdul Ghani menyampaikan, kalau memang ingin sekolah, keadaan kita seperti ini adanya, sarung untuk sekolah yang dimiliki hanya satu lembar. “Duduk di depan pintu, kalau sarung ditiup angin, tersibak sarung, karena tidak memakai celana. Sampai kawan bersuara yang di samping, siapa yang kawin dengan Ijai Guru Sekumpul sangat beruntung. Aku malu aja, cuman memang kada punya, orang lain memakai celana, aku kada kawa tidak bisa,” ungkapnya dengan nada guyon. Apabila masuk ke dalam kelas, kenang Guru Sekumpul, teman-temannya sering menutup hidung, karena pakaiannya bau. Tetapi karena memang bau, dirinya tidak marah. Baju yang dimiliki cuma satu lembar di badan, tidak disertai baju kaos di bagian dalam sebagai pelapis. Sehingga tatkala ketiak berkeringat, menebarkan aroma yang tidak sedap. Sekolah Hanya Minum Air Putih Bukan cuma itu, kisahnya, Syekh Muhammad Zaini kecil semasa sekolah tidak pernah duduk di warung, karena tidak mempunyai uang. “Jadi di rumah minum air putih hangat lalu berangkat ke sekolah, kemudian jam WITA saat istirahat pulang lagi ke rumah minum air putih, setelah itu pukul 12 siang singgah ke masjid. Pulang ke rumah, lanjut dia, ayahnya Syekh Abdul Ghani datang ke rumah membawa satu bungkus nasi kuning. “Seperempat nasi untuk ayah, seperempat untuk uma ibu, seperempat untuk aku, seperempat untuk umanya Haji Ahmad saudara Syekh Muhammad Zaini, itu aja siang. Sisanya minum aja, puluhan tahun seperti itu,” katanya. Sengaja Tidak Dinaikkan Kelas Cerita lain juga disampaikan Syekh Muhammad Zaini, dia mengetahui perbincangan gurunya Tuan Guru Salman Jalil dan Tuan Guru Semman Mulia, yang menyatakan, “tidak ada riwayat orang kaya itu alim, yang biasa itu orang alim itu susah,” katanya. Dikatakan, usia 7 tahun dia sekolah agama di kampung selama 2 tahun, kemudian masuk sekolah di Ponpes Darussalam pada tingkatan Ibtidaiyah selama 6 tahun. Berikutnya naik ke Tsnawaiyah kelas 1, begitu mau naik ke kelas 2, ujar Tuan Guru Semman Mulia kepada Tuan Guru Salman Jalil, “jangan dinaikkan ke kelas dua, alasannya belum hapal alfiah.” BACA JUGA; Daftar Ulama Tanah Banjar, Guru Sekumpul adalah Wali Kutub Rupanya Tuan Guru Semman Mulia kasihan dengan Syekh Muhammad Zaini, sehingga mendoakan setiap malam saat Sholat Tahajjud. “Nah sejak itulah, Allah Taala membukakan aku, Allah Taala Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, tidak ada lagi terlindung di langit maupun di bumi dan isi keduanya, seakan-akan aku melihat dan mengetahui, seakan-akan, berkat Guru Semman,” pungkas Guru Sekumpul.sir
Mengenang Tuan Guru Sekumpul, Ulama Kharismatik Kalimantan Hari ini adalah khaul dari Tuan Guru Sekumpul. Ribuan orang akan datang ke makamnya yang terletak di Martapura, Kalimantan rencananya Presiden Joko Widodo akan menghadiri khaul tersebut. Acara khaul pada tahun ini merupakan yang ke tiga belas kharismatik yang satu ini julukannya sangat banyak. Masyarakat utamanya wilayah Kalimantan kerap memanggilnya dengan Tuan Guru Sekumpul, Tuan Guru Ijai, Abah Guru hingga Tuan Guru. Adalah KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, ulama masyhur dari Banjar, Kalimantan Selatan yang pada saat pengajiannya di datangi ribuan sebuah riwayat yang mengatakan bahwa sewaktu kecil tuan Guru Sekumpul sering menunggu Syaikh Zainal Ilmi yang ingin ke Banjarmasin. Kepergiannya semata-mata hanya mata untuk bersalaman dan mencium tangannya. Syikh Zainal Ilmi adalah salah ulama kharismatik di Kalimantan. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-dilahirkan pada malam 11 Februari 1942 27 Muharram 1361 Hijriyah di desa Dalam Pagar, Martapura Timur, Kabupaten kecilnya Qusyairi. Lahir sebagai anak pertama dari pasangan suami-istri Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman dengan Hj. Masliah binti H. Mulia. Guru Sekumpul sewaktu kecil sangat dekat dengan ayah dan neneknya yang bernama Salbiyah. Keduanya menanamkan kedisiplinan dalam pendidikan tauhid dan akhlak serta belajar membaca Al-Qur’ kecil memang sudah terlihat kecerdasannya. Pada usia muda telah mampu menghafal al usia 9 tahun sudah hapal tafsir Jalalain. Menginjak usia kurang lebih 10 tahun sudah terlihat diberi kelebihan-kelebihan khusus tentang ilmu secara formal di Madrasah Ibtidaiyah Darussalam, Martapura. Kemudian melanjutkan pendidikan Tsnawiyahnya di MTs Darussalam pada usia 13 tahun. Selain sekolah formal juga menempuh pendidikan di beberapa tempat pengajian. Diantaranya pernah berguru dengan Syaikh Seman Mulia, Syaikh Salman Jalil, Syaikh Nashrun Thahir dan KH. Aini Kandangan. Adapun tiga yang terakhir merupakan gurunya yang secara khusus untuk pendalaman Ilmu Seman Mulia yang juga pamannya mempunyai arti khusus bagi Kh Abdul Ghani. Ditangan pamannya inilah dididik secara intensif. Syikh Seman sering mengajak dan mengantarkannya mendatangi tokoh-tokoh yang terkenal dengan sepesialisasinya keilmuan baik di daerah Kalimantan Selatan maupun di Jawa untuk belajar. Seperti misalnya ketika ingin mendalami Hadits dan Tafsir, guru Seman mengajak mengantarkan Guru Sekumpul kepada al-Alim al-Allamah Syaikh Anang Sya’rani yang terkenal sebagai muhaddits dan ahli itu, di antara guru-guru Guru Sekumpul lagi selanjutnya Syekh Syarwani Abdan Bangil, al-Alim al-Allamah al-Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Kedua tokoh ini biasa disebut guru khususnya dalam ilmu tasawuf. nama gurunya antara lain Kyai Falak Bogor, Syaikh Yasin bin Isa Padang Makkah, Syaikh Hasan Masyath, Syaikh Ismail al-Yamani, Syaikh Abdul Kadir al-BarAdapun karya tulisnya antara lain Risalah Mubaraqah, Manaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani. Kemudian Ar-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah dan Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil a’zham Muhammad bin Ali Ba’alawy. Ulama ini meninggal di Martapura, 10 Agustus 2005 pada usia 63 tahun
amalan tuan guru sekumpul